Posts

Sepotong Hati yang Baru

Image
Ini penghujung tahun. Tapi masih juga belum bisa memaafkan ikhlas hati ini. Ibarat kata larutan, belum juga ia netral, pH nya masih saja asam. Sampai bila akan selalu masam? Sampai bila terus mendendam? Sampai bila terbakar kali tiada ikhlas? Sulit betul memaafkan. Sulit betul untuk ikhlas. Allahu rabbi. Sampai bila, ya Rabbi? Sekali-kali ia terbang, menukik melukis senyum. Lantas ia dihempaskan jatuh menyisakan lengkungan kurva tertutup bentuk parabola. Bilamana bisa meminta biar saja ia terbang datar seperti biasanya. Agar tidak ada rasa-rasa yang meletup-letup yang congkak kali menganggap dirinya menghias jalan memberikan dinamika. Katanya, itu pertanda bahwa hatimu belum mati. Katanya itu pertanda bahwa kamu masih punya hati. Apa aku harus meminta agar tak punya hati saja agar tidak perlu merasakan dinamika itu? Katanya lagi, bangsa ini hanya siap dipimpin oleh orang-orang yang sudah selesai dengan urusan pribadinya. Dengan tulisanku yang demikian, jelaslah sudah...
"I need you to see that you are the reason" "Se-sayang itu Bapak sama kita." Nampaknya, sayang itu memang sebuah kata kerja. Aktifa. Ia menuntut banyak. Banyak sekali kerja nyata dan pengorbanan dari sang pemilik rasa. Andaikata sayang itu sesederhana itu. Barangkali aselinya memang sesederhana itu. Hanya kami yang melihatnya terlalu rumit. Rasanya sudah banyak sekali yang harus direlakan dan diikhlaskan hanya untuk mengambil jalan berliku ini. Apakah seberharga itu? Entah. Itu pilihan pribadi sayangnya. Menyisakan segala risiko dan konsekuensi yang harus ditanggung. Sendirian juga. Sendirian lagi. Rasanya menyedihkan. Jatuh cinta sendirian. Tidak berbalas. Tidak juga penolakan. Menggantung di angan. --- Rasanya menyedihkan jatuh cinta sendirian dan tersesat dalam rasa sendirian

Leave Me in Peace

Saudara Sampai Surga, begitu kami menyebutnya. Berat? Memang. Untuk bersama mereka, ada jutaan hal yang harus rela dikorbankan. Meskipun kadang tidak rela-rela amat juga. Mungkin pengorbanan mereka jauh lebih banyak sih. Mereka kan punya banyak sekali lingkaran pertemanan yang menjanjikan. Tapi aku? Aku bersyukur. Setidaknya dengan ikatan ini, aku bisa sebentar menyicipi memiliki lingkaran pertemanan sedekat ini. Setidaknya, aku tahu mereka tidak akan seenaknya pergi karena kita punya kepentingan yang sama. Iya. Kepentingan yang sama. Kalau saja bukan karena motif kepentingan itu, jelas saja aku tidak akan bisa bahkan berada dekat dengan mereka-mereka. Kalau saja bukan karena kepentingan-kepentingan itu, sudah sejak lama mereka muak dan pergi meninggalkan aku. Atau yang lebih parahnya, bahkan mereka tidak peduli dengan keberadaanku. Aku bersyukur. Kalau bukan karena punya motif kepentingan di CCRC, mungkin kami tidak akan bersama. Tapi.. aku tidak boleh terlalu senang kan? ...

KaKaEn Mengubahmu

"Kamu iteman ih" Ya. Itu hanya salah satu diantara sih. Perubahan signifikan yang bisa kamu lihat adalah tone kulit gue yang makin menggelap. Sisanya, gue bukanlah saya yang dulu. Tidak seutuhnya. Tidak sepenuhnya. Tapi barangkali ada sebagian. Kalau teman-teman lain menemukan cerita-cerita hebat pada momen kakaen-nya, cerita yang berakhir pada pengamatan dan refleksi diri, cerita kakaen gue jauh lebih sederhana dan sama sekali tidak muluk-muluk. Cerita kakaen gue sangat amat sederhana dan bahkan hanya sedikit saja yang barangkali bisa mengambil hikmah. Tapi berhubung manusia yang paling beruntung adalah yang paling pandai mengambil hikmah, jadi ya gue coba buat menggali faedah dari secuil pengalaman hidup gue di perkakaenan. Firstly , dalam postingan ini gue sengaja menggunakan kata ganti gue alih-alih saya. Sadar atau nggak itu adalah salah satu perubahan signifikan lain yang bisa kamu temui pada diri saya akibat pengaruh kakaen. Yep. Frekuensi penggunaan kata ganti p...

Revolusi

Image
Mungkin memang perlu yang namanya revolusi sebagai bentuk perubahan. Sudah saatnya beranjak dari pijakan diri selama ini. Karena lingkunganku tidak berubah, yang punya kewajiban untuk mengubah dirimu adalah kamu. Sudah tidak bisa kamu berlindung dibalik cangkangmu yang sudah lapuk itu. Sudah ssatnya kamu mencari cangkang baru sebagai rumah untuk dirimu yang rapuh dan ringkih. Taken from  here

Manusia Setengah

Image
Doc. Taken from  here "Semua yang kamu lakuin magel , Fan. Dikerjain tapi nggak jadi." It called fail, Honey. Failure. Ini yang kamu sebut gagal, Cintaku. Kegagalan yang hakiki. Mau dikatakan berapa kalipun, dengan cara apapun, sebutan bagaimanapun, itu namanya gagal. Ketika kamu sudah berusaha dan usahamu harus terhenti, itu yang kau sebut gagal. Bisa jadi ia adalah kesuksesan yang tertunda. Tapi mau dikatakan bagaimanapun yang nampak sekarang ini hanyalah, kamu gagal. Kamu dan kegagalanmu. Tadinya, aku pikir dengan berusaha dengan keras, totalitas, dan bahkan mati-matian, akan mengubah hasil yang kuperjuangkan. Tapi nyatanya hidup memang sebercanda itu. Kamu sudah berpeluh-peluh jungkir jumpalitan naik turun gunung menghalau badai topan tapi usahamu berakhir dengan tidak apa-apa. Berakhir dengan sebuah kehampaan. Berkali. Kali. Tidak cukup sekali. Hal itu terus terjadi dan berulang kembali. Ternyata berjuang tidak sesederhana itu. Bahkan setelah segala pertu...

Kintsugi and Silver Lining

Image
Doc. taken from  here Once my lecture said, "Data is just data. And yes, no one can change it. But the interpretation it self, it depend on us which might acknowledge it as an invention or a flaw." Yes. Data nggak ada artinya, boy. Dia hanya berupa data. Dan nggak akan ada yang bisa mengubahnya. Itu adalah fakta. Tidak dapat diganggu gugat. Tapi yang bisa mengolah data itu dan menafsirkannya adalah kita. Kita yang menentukan arti dari data-data itu. Kita yang bisa bercerita, apa makna dari data itu. Dan bahwa hikmah dari data itu seperi apa, tentu saja kita yang menentukan. Dari data yang didapatkan, sangat mungkin hasilnya berkebalikan dengan hipotesa. Tapi tidak ada yang bilang bahwa berkebalikan dengan hipotesa berarti gagal. Berkebalikan dengan hipotesa malahan menjadi pintu baru peluang terbukanya sisi lain dari apa yang kita duga. See? There must be something, some silver lining of it self. Senada seirama dengan statement Eyang Pram. Iya. Pramoedya Ananta Toer...